Sains Mengatakan "Ada", Mata Mengatakan "Tiada": Menelisik Kedewasaan Sikap dalam Awal Rajab 1447 H
Penetapan awal bulan Rajab 1447 H (Desember 2025) menyuguhkan sebuah dialektika menarik antara data astronomis di atas kertas dan fakta empiris di lapangan. Lembaga Falakiyah PBNU (LF PBNU) telah mengambil keputusan tegas: 1 Rajab 1447 H jatuh pada Senin, 22 Desember 2025, melalui mekanisme istikmal (penggenapan). Keputusan ini menarik untuk dicermati, mengingat data hisab internal NU sendiri menunjukkan bahwa hilal sejatinya sudah berada di atas ufuk. Lantas, mengapa PBNU memilih jalan "memundurkan" awal bulan? Di sinilah letak kehati-hatian dan keteguhan prinsip metodologi yang patut kita apresiasi. Posisi Hilal yang "Dilematis" Merujuk pada Data Falakiyah yang dirilis (Gambar 1 dan teks berita), posisi hilal pada Sabtu sore, 20 Desember 2025, berada pada angka yang cukup krusial. Tinggi hilal berkisar antara +2 derajat 07 menit (Jayapura) hingga +3 derajat 15 menit (Bengkulu). Sementara elongasi (jarak sudut bulan-matahari) berada di angka 6 derajat 26 menit di...